Character Building : Bermuhasabah Berprinsip Kaizen
Olah Kata, Tebarkan Makna
Tulisan ini diinspirasi ketika penulis menjadi narasumber acara talkshow bertema character building di sebuah stage yang dikelilingi bazar dalam rangkaian kegiatan FMMB.
Acara ini merupakan kerja kolaboratif antara:
- FMMB (Forum Masjid-Musholla BSD dan sekitarnya) – forum bapak-bapak
- FORSIMA (Forum Silaturahim Muslimah) – forum ibu-ibu
- KARIB (Keluarga Remaja Islam BSD dan sekitarnya) – forum remaja
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk mengaktualisasikan semangat olah kata, tebarkan makna.
Posisi di Era VUCA
Saat ini kita menghadapi berbagai istilah zaman:
- Era milenial (perspektif generasi)
- Era industri 4.0 (perspektif dunia industri)
- Era digital (perspektif teknologi informasi)
Secara umum kita juga hidup dalam zaman VUCA, yaitu:
- Volatility – kondisi yang mudah bergejolak
- Uncertainty – ketidakpastian yang tinggi
- Complexity – kompleksitas tantangan dan permasalahan
- Ambiguity – ketidakjelasan informasi mana yang benar dan mana yang salah
Era industri 4.0 sebenarnya tidak terlalu dirisaukan seandainya Rasulullah masih hidup. Rasulullah justru akan sangat senang karena teknologi membuat dakwah, syiar, dan ukhuwah menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan lebih murah menjangkau masyarakat luas.
Keresahan yang terjadi justru ketika kemajuan teknologi informasi belum dimanfaatkan secara optimal untuk menyebarkan nilai-nilai kebenaran. Yang sering terjadi adalah penyebaran nilai kebatilan, perilaku maksiat, penyalahgunaan narkoba, tindakan kriminal, serta berbagai perilaku yang menghalalkan segala cara. Semua itu dapat kita saksikan melalui media elektronik maupun media sosial di genggaman tangan kita.
Antara yang Besar dan yang Kecil
Dalam perspektif jumlah penduduk Indonesia, umat Islam merupakan kelompok terbesar. Jumlah besar ini bisa menjadi peluang, tetapi juga bisa menjadi ancaman jika tidak dimanajemeni dengan baik.
Di era kompetisi—terlebih di era digital—tidak ada jaminan bahwa yang besar (the giant) selalu menang. Justru yang kecil bisa unggul dan mengalami sustainable growth ketika mampu:
- beradaptasi
- berkolaborasi
- menghasilkan kinerja yang lebih cepat, lebih mudah, dan lebih murah.
Perspektif Produktivitas
Peta demografi Indonesia menunjukkan bahwa bonus demografi sudah dimulai dan diperkirakan mencapai puncaknya sekitar tahun 2030, yaitu ketika jumlah usia produktif sekitar dua kali lebih besar dibanding usia non-produktif.
Namun produktivitas Indonesia masih tergolong rendah di kawasan ASEAN.
Beberapa indikator menunjukkan bahwa:
- ICOR Indonesia sekitar 6,8
- Produktivitas manufaktur Indonesia sekitar 74,4 (skala 100)
- Rata-rata ASEAN sekitar 78,2
Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih perlu meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kualitas sumber daya manusia.
Perspektif Spiritual
Kehidupan manusia sejak lahir mengalami berbagai fase.
Sejak bayi, manusia memiliki dorongan untuk merangkak lalu berjalan. Memasuki masa anak-anak, kita bermain bersama teman sebaya. Ketika memasuki usia sekolah, kita belajar dari SD hingga perguruan tinggi.
Setelah lulus, banyak orang berobsesi bekerja di perusahaan, organisasi, atau berwirausaha untuk meraih kesuksesan. Seiring berjalannya waktu, tibalah masa pensiun atau usia lanjut ketika manusia menikmati sisa hidupnya dengan kondisi fisik yang mulai menurun.
Dalam perjalanan panjang kehidupan ini, menarik untuk merenungkan bagaimana manusia menggunakan waktunya.
Dengan asumsi usia manusia 60 tahun, kira-kira pembagian waktunya adalah:
- 20 tahun untuk bekerja
- 18,8 tahun untuk tidur atau istirahat
- 18,2 tahun untuk aktivitas lainnya
- 10 bulan saja (sekitar 1,39%) untuk ibadah
Pertanyaannya, apakah kita merasa cukup dengan alokasi waktu ibadah tersebut?
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Karena itu, sudah saatnya kita meluruskan niat bahwa setiap aktivitas yang kita lakukan adalah ibadah kepada Allah.
Mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur:
- bekerja di perusahaan atau organisasi
- menjalankan usaha mandiri
- aktivitas sosial kemasyarakatan
- bahkan tidur dan istirahat
Jika semuanya diniatkan sebagai ibadah, maka akan terjadi lompatan besar dalam nilai ibadah kita.
Bermuhasabah dan Berbenah
Hari ini kita masih hidup. Namun tidak ada yang tahu apakah:
- besok
- minggu depan
- bulan depan
- atau tahun depan
kita masih diberi kesempatan hidup.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.”
(HR. Ahmad)
Prinsip Kaizen
Istilah Kaizen berasal dari bahasa Jepang yang berarti perbaikan berkelanjutan.
Beberapa prinsip Kaizen antara lain:
- Fokus pada pelanggan
- Melakukan perbaikan terus-menerus
- Mengakui masalah secara terbuka
- Mendorong keterbukaan
- Menciptakan kerja tim
- Mengelola proyek lintas fungsi
- Mengembangkan hubungan kerja yang baik
- Mengembangkan disiplin pribadi
- Memberikan informasi kepada setiap pekerja
- Memberdayakan setiap pekerja
Dari sepuluh prinsip tersebut, yang paling relevan dengan muhasabah adalah perbaikan secara terus-menerus.
Pola Pikir Muhasabah Berprinsip Kaizen
Secara umum pola pikir bermuhasabah dapat diformulasikan menggunakan pendekatan perbaikan berkelanjutan melalui siklus PDCA:
- Plan
- Do
- Check
- Action
Siklus ini dapat diterapkan:
- secara individual
- secara komunal
- dalam kegiatan proyek maupun non-proyek
- dalam design thinking maupun strategi organisasi.
Dalam praktiknya, pemecahan masalah juga dapat dilakukan melalui metode 8 langkah:
- Menentukan aktivitas
- Mengidentifikasi penyebab masalah
- Menentukan solusi
- Merencanakan perbaikan
- Menerapkan perbaikan
- Mengevaluasi solusi
- Menetapkan standardisasi
- Menentukan tema perbaikan berikutnya
Syukur yang Tak Kendur
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu; dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim: 7)
Kisah Inspiratif
Ada sebuah kisah inspiratif yang dapat menjadi learning process bagi kita.
Seorang petani dan istrinya berjalan pulang dari sawah sambil diguyur hujan. Tiba-tiba sebuah motor melintas di depan mereka.
Petani berkata kepada istrinya:
“Lihat bu, betapa bahagianya pasangan yang naik motor itu. Meski kehujanan, mereka bisa cepat sampai rumah, tidak seperti kita yang harus berjalan jauh.”
Sementara itu, pengendara motor berkata kepada istrinya ketika melihat mobil pick-up:
“Lihat itu, betapa bahagianya orang yang naik mobil. Mereka tidak perlu kehujanan seperti kita.”
Di dalam mobil pick-up, pasangan suami istri berkata ketika melihat mobil Mercedes-Benz lewat:
“Lihat mobil itu. Betapa bahagianya orang yang memiliki mobil mewah seperti itu.”
Namun pengendara Mercedes-Benz justru berkata dalam hatinya ketika melihat petani yang berjalan bergandengan tangan:
“Betapa bahagianya pasangan petani itu. Mereka berjalan mesra menikmati suasana pedesaan, sementara aku dan istriku hampir tidak pernah punya waktu bersama karena kesibukan.”
Kisah ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sering kali bergantung pada cara kita memandang kehidupan.
Culture Paradigm Change
Saat ini terjadi perubahan paradigma dari paradigma lama menuju paradigma baru.
| Paradigma Lama | Paradigma Baru |
|---|---|
| Training | Learning |
| High Spec | High Impact |
| Fixed | Flexibility |
| Supervisory | Self Monitoring |
| Materiality | Spirituality |
| Competitive | Participative |
| Static | Dynamic |
| Short Term | Long Term |
| Corrective | Preventive |
Salah satu perubahan paling menarik adalah pergeseran dari materialitas menuju spiritualitas.
Kunci Kesuksesan
Kesuksesan dapat diibaratkan seperti mengendarai mobil.
- Setir melambangkan ilmu, agar perjalanan tetap berada di jalur yang benar
- Dashboard melambangkan kejujuran, sebagai alat kontrol diri
- Rem melambangkan kesabaran, ketika menghadapi ujian
- Gas melambangkan rasa syukur, untuk terus melaju mencapai tujuan
- Mesin melambangkan kasih sayang, yang menjadi energi penggerak kehidupan
Dengan kombinasi tersebut, perjalanan menuju tujuan akan lebih terarah.
Tetapkan Target Tanpa Meleset
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)
Karena itu penting bagi kita untuk membuat perencanaan hidup:
- jangka pendek
- jangka menengah
- jangka panjang
Sebab gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan.
Jadikan Kesibukan untuk Memperbaiki Diri
Ketika kita menjadikan kesibukan sebagai sarana memperbaiki diri, maka kesibukan tersebut akan menjadi solusi dari hasil muhasabah.
Perbaikan itu dapat dimulai dari:
- diri sendiri
- keluarga
- komunitas terdekat
- organisasi
- masyarakat
- bahkan lingkungan yang lebih luas
Semua dilakukan untuk menggapai ridha Allah dan kebahagiaan dunia serta akhirat.
Jadilah Orang yang Beruntung
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Ali Imran: 104)
Menjadi orang yang beruntung berarti:
- menyeru kepada kebaikan
- mengajak kepada yang ma’ruf
- mencegah dari yang munkar
Terutama dalam membangun karakter melalui perbaikan yang berkelanjutan.
Sebagai penyemangat, mari kita renungkan pesan sederhana berikut:
Ada pesta ada hadiah,
Hadiah dibuka isinya jam tangan.
Mari kita bermuhasabah, dengan semangat perbaikan berkelanjutan.
Suradi, SE, MM, CPS
Penulis dan kontributor aktif di Dewan Da'wah Tangerang Selatan, berfokus pada pengembangan umat di wilayah BSD.