Tafsir Ayat Dakwah: Pentingnya Hikmah dalam Mengajak Kebaikan
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik…” (QS. An-Nahl: 125)
Ayat ini adalah pedoman fundamental bagi setiap muslim yang ingin menyampaikan kebenaran. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan “Hikmah” dalam konteks dakwah kita hari ini?
Makna Hikmah Secara Mendalam
Para mufassir menyebutkan bahwa hikmah bukan sekadar kata-kata bijak. Al-Hafiz Ibnu Katsir menjelaskan hikmah adalah menyampaikan sesuatu dengan tepat: pada orang yang tepat, di waktu yang tepat, dan dengan cara yang tepat.
1. Memahami Audiens (Fiqh Al-Waqi’)
Dakwah kepada anak muda di kafe tentu berbeda dengan dakwah kepada jamaah masjid. Hikmah mengharuskan kita menggunakan bahasa mereka, memahami kekhawatiran mereka, dan tidak menghakimi di awal perkenalan. Inilah yang sering kita lupakan dalam dakwah di media sosial.
2. Al-Mau’idzatul Hasanah (Nasihat yang Baik)
Kata-kata yang keluar dari hati akan sampai ke hati. Nasihat yang baik adalah yang tidak menunjukkan rasa lebih mulia dari yang dinasihati. Ia adalah ajakan yang penuh kasih sayang, layaknya seorang kakak yang menggandeng tangan adiknya agar tidak jatuh.
3. Mujadalah bi Allati Hiya Ahsan (Berdebat dengan Cara Terbaik)
Jika pun harus ada perbedaan pendapat atau perdebatan ilmiah, Islam mengatur etika yang ketat. Tidak boleh ada cacian, merendahkan martabat, atau memelintir ucapan lawan bicara. Fokusnya adalah pada Al-Haq (kebenaran), bukan pada ego untuk menang.
Relevansi Dakwah di Tangerang Selatan
Sebagai kota satelit dengan tingkat heterogenitas yang tinggi, pendakwah di Tangsel harus memiliki “Hikmah Strategis”. Kita berhadapan dengan masyarakat yang kritis dan berpendidikan tinggi. Oleh karena itu, dakwah harus disampaikan dengan landasan literasi yang kuat, data yang valid, dan perilaku yang menjadi contoh (Quwwatul Uswah).
Mari kita bercermin: Apakah cara kita mengajak sudah mencerminkan keindahan Islam yang kita bawa? Jangan sampai orang menjauh dari hidayah bukan karena mereka benci agama, tapi karena mereka terluka oleh cara kita menyampaikannya.